Ricardo Kaka

11 12 2008

Kaka, nama ini pernah mengecoh. Ini terjadi ketika manajer umum klub sepakbola Juventus, Luciano Moggi, berkomentar menertawakan, ketika nama Kaka beredar di bursa pemain-pemain baru dari Brazil, “Kaka? Kami tidak akan pernah mengontrak pemain dengan nama sperti itu!”

Namun yang celaka ternyata justru nama Luciano Moggi itu, karena akan ikut disebut setiap kali anekdot ini diceritakan kembali, yang memang selalu terjadi setiap kali Kaka membuktikan, betapa nama “seperti itu” tidak perlu mengalanginya menjadi salah satu pemain sepakbola besar yang pernah lahir di muka bumi. Tahun 2007, tak kurang dari dua gelar penting diraihnya sekaligus, European Footballer of the Year dan FIFA Player of the Year. Tak lebih dan tak kurang inilah berkat peranannya membawa AC Milan, tempat ia bergabung sekarang, menjadi juara Liga Champions Eropa; maupun menjadi juara Piala Dunia Antarklub FIFA, di Jepang. Dalam kejuaraan terakhir itu pun Kaka dinobatkan sebagai pemain terbaik.

Dalam usia 25 tahun, kaka bagaikan telah memiliki segalanya: ketampanan keterampilan, kemasyhuran dan kekayaan. Siapakah Kaka yang namanya semula dianggap aneh itu?

kaka
download Bola_Seri_Bintang_Ricardo_Kaka.pdf [21,680kb]
best view with foxit reader


Anak orang kaya

Kaka dilahirkan 25 tahun lalu di Kota Brasilia dengan nama Ricardo Izecson Santos Leite sebagai anak dari Bosco Leite, seorang insinyur yang sukses dalam pekerjaannya, sehingga menduduki posisi sosial kelas menengah – yang biasanya tidak menjadi lading subur pemain sepakbola.

Di Brazil sepakbola merupakan jembatan emas, bukan hanya bagi kelas bawah, tetapi bahkan juga kelas terbawah, seperti bisa dibaca dalam riwayat para pemain sepakbola terkenal. Mulai dari Pele sampai Romario, bahkan juga Ronaldo dan Ronaldinho yang masih bermain sekarang ini, berasal dari favella atawa slum alias perkampungan kumuh yang menjadi kontras dunia gemerlap Brazil. Dari menendang bola plastik di sembarang lingkungan, para pemain besar Brazil tumbuh nyaris secara alamiah, dengan cara bermain yang tidak terdapat dalam buku, sehingga permainannya begitu memukau bagaikan seni pertunjukan. Bukankah hanya pemain Brazil yang lazim disebut seniman bola?

Agak lain halnya dalam perkara Kaka. Usianya masih empat tahun ketika keluarganya pindah ke Curitiba, di bagian selatan Brazil, dan tiga tahun kemudian ke Sao Paulo. Saat itu, artinya ia berusia tujuh tahun, guru olahraganya menganjurkan ke-pada Simone, ibunya Kaka yang guru matematika, agar anak itu dimasukkan ke sekolali sepakbola. Dengan segera Kaka menjadi anggota, dan tahun 1997, pada usia 15, ia sudah terpilih untuk masuk tim yunior klub terkenal itu. Prestasi macam ini, bagi pemain yang berasal dari kelas bawah tidak menimbulkan masalah, karena memang tidak ada pilihan lain. Tapi bagi Kaka cukup menyulitkan, karena pilihan lain selain main bola masih luas terbentang. Maka orangtuanya pun membantunya untuk mengambil keputusan. “Mereka tunjukkan kesulitan yang akan saya hadapi kalau mau jadi pemain sepakbola,” ujarnya, seperti dituliskan kembali oleh Tim Vickery dalam World Soccer edisi Mei 2007. “Dan juga kalau belajar untuk jadi insinyur seperti ayah saya. Lantas mereka bilang, ‘Sekarang terserah kamu. Akan kamu temukan suka dan duka dalam keduanya, tetapi pilihan berada di tanganmu dan kami akan mendukungnya.” Kita semua sudah tahu pilihan Kaka. Pilihan yang membuatnya berjumpa dengan banyak pemain dari latar belakang berbeda. Dalam suasana persaingan, potensi konflik jelas terbuka, dan sekali lagi sikap dan tin-dakan orangtuanya menyela-matkan Kaka.

“‘Kita mendapatkan posisi istimewa dalam hidup, tetapi kita juga tahu betapa berat hidup jauh dari keluarga,’ kata ayah saya, karena itu kami biasa mengundang teman-teman yang tinggal di asrama klub untuk tinggal bersama kami saat liburan. Mungkin ini yang saya tak punya prasangka, yakni karena saya berasal dari kelas sosial yang berbeda

Dalam tuntutan dunia sepak bola, tentu sangatlah penting bahwa Kaka bukan sekadar anak orang kaya, tetapi memang bisa main bola. Tostao, pemain tim Brazil yang memenangkan Piala Dunia Jules Rimet tahun 1970 adalah pengagum Kaka sejak awal. Pada Maret 2002, menjelang Piala Dunia 2002, ia bah-kan menulis: “Pemain besar menyederhanakan segalanya. la tidak membuang waktu atau jadi bingung. Inilah yang membuat saya terpesona kepada Kaka. la mengoper, ia menerima, ia menembak, dan melakukan semuanya dengan teknik luar biasa. Kaka sudah siap untuk Piala Dunia ini.”

Namun ternyata, meski Brazil saat itu menjadi juara dunia ke lima kalinya, Kaka hanya bermain beberapa menit melawan Costa Rica, ketika Brazil sudah dipastikan lolos ke babak berikutnya.

Tunggu kelanjutan berita about Kaka

di

kha2milan@wordpress.com


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.